Santap si Jamur Eksotis dan Bergengsi
Selasa, 24 November 2009
12:01 wib
Koran SI - Koran SI
Poached egg/Ist
JAMUR eksotis ini memang sensasional. Tak hanya harganya yang mencapai Rp95 juta per kilogram, aroma dan rasanya yang khas sungguh tak terlupakan. Kelezatannya kini hadir di Jakarta.
Hujan deras yang mengguyur Jakarta malam itu tak menyurutkan semangat puluhan orang untuk menyambangi Pacific Restaurant & Lounge Hotel The Ritz-Carlton Pacific Place (RCPP) yang berlokasi di kawasan SCBD Sudirman, Jakarta. Ya, malam itu adalah malam spesial. Tak kurang 30 tamu, baik lokal maupun asing, antusias menantikan lima menu white truffle istimewa racikan chef tamu Igor Macchia yang didatangkan dari restoran La Credenza di Piedmont, Italia.
Wilayah Piedmont, terutama di pinggiran Kota Alba, diklaim sebagai penghasil jamur putih langka dan terbaik, yakni white alba truffle. Bulan Oktober dan November adalah saat jamur putih nan langka ini sedang "melimpah" di Alba.
Menjawab rasa penasaran warga Jakarta, Igor pun memboyong 2 kilogram white alba truffle dan menyajikannya dalam acara "The White Truffle Wine Dinner" di RCPP Jakarta, beberapa waktu lalu.
White truffle boleh dikatakan telah menjadi tradisi kuliner tahunan di Alba. Berbeda dengan black truffle, white truffle nyaris tak pernah dimasak. Cukup diserut tipis dan ditaburkan sebagai pelengkap hidangan Italia semisal pasta, salad, dan sup. Satu porsi cukup diberi 2-10 gram white truffle. Tak perlu tambahan macam-macam bumbu atau rempah, sudah tercium aromanya yang tajam.
Selain rasa yang unik, keistimewaan white truffle memang terletak pada aromanya yang khas dan tajam. Itulah sebabnya, kata Igor, jamur ini tidak cocok bila disandingkan dengan masakan yang terlalu berbumbu seperti Chinese food.
"Rasa dan aroma asli jamur bisa hilang, terkalahkan aroma bumbu yang kuat," ujarnya.
Mengawali acara white truffle dinner di RCPP, Igor menyuguhkan lembutnya tumis ikan sea-bass yang disajikan bersama jerusalem artichoke sauce, mashed potato, bread crouton, dan dua serut halus white truffle di atasnya. Hmm...hidangan pembuka yang sungguh membangkitkan selera.
Dinginnya cuaca selepas hujan juga serasa sirna manakala chef peraih penghargaan Michelin Star itu datang dengan kehangatan semangkuk sup kentang. Menu ini disajikan dengan cara menuangkan kuah sup di atas tumis hati angsa (foie gras), veal jus jelly, hazelnut oil, dan tentunya white truffle. Menurut Igor, sup berwarna kuning itu dibuat dari campuran bahan sederhana, yakni kentang, keju mascarpon, mentega, dan sedikit gelatin sebagai pengental.
Cara penyajian yang "tak lazim" hadir dalam menu ketiga, agnalotti pasta beef spinach filling dengan hazelnut oil dan white truffle. Butiran pasta agnolotti dengan isian daging sapi cincang dan bayam tidak disajikan di atas piring, melainkan digulung kain serbet putih yang akan dibuka saat sudah tersaji di hadapan tamu. Harumnya keju parmesan yang melumuri pasta kering ini bersaing dengan aroma dari white truffle.
Kepiawaian Igor dalam berinovasi juga tampak pada menu keempat. Konsep dasarnya hanya telur rebus setengah matang (soft poached egg), tapi ternyata menjadi istimewa setelah diselipkan lelehan keju (cheese fonduta) dan ditaburi kacang almond dan white truffle.
Pesona white truffle malam itu digenapkan dengan sajian white chocolate mousse dengan truffle vanilla ice cream. Hidangan penutup ini membuktikan bahwa jamur berjuluk "berlian putih" (white diamond) ini juga ternyata serasi dipasangkan dengan lembutnya es krim vanila.
(tty)