Menyantap Kelezatan Kepiting Jantan
Minggu, 21 Februari 2010
12:33 wib
Koran SI - Koran SI
Menu kepiting yang diunggulkan No Sign Board, satu di antaranya white pepper crab, memadukan kelezatan kepiting jantan dengan cita rasa pedas merica putih. (Foto: chowtimes)
KEPITING termasuk santapan yang cukup favorit. Bagi Anda pencinta kepiting, ada banyak alternatif tempat makan yang menyediakan santapan hewan laut ini, salah satunya No Sign Board.
Restoran No Sign Board menyediakan beragam menu kepiting dengan cita rasa tradisional. White pepper crab, chili crab, butter crab, steamed crab, ginger & spring onion crab, dan salted egg crab adalah beberapa menu yang bisa Anda pilih di restoran yang berlokasi di Central Park, Jakarta Barat itu.
Menurut Manajer No Sign Board Venny Hu, kepiting merupakan menu spesialisasi andalan restorannya. Pada umumnya, kepiting yang digunakan adalah yang berjenis kelamin jantan.
”No Sign Board Seafood ingin menjaga kualitas dan kuantitas porsi sesuai standar yang ditetapkan. Jadi, kami selalu menggunakan kepiting jantan dalam penyajian,” ujar Venny.
Penggunaan kepiting jantan ini bukan tanpa alasan. Venny menyebutkan, jika kepiting betina yang dipilih, maka isinya bisa jadi berbeda- beda. Daging kepiting betina jauh lebih beragam dibandingkan kepiting jantan yang berat serta ukurannya relatif stabil sehingga mudah diolah. Selain itu, kepiting betina umumnya juga memiliki telur.
Menu kepiting yang diunggulkan No Sign Board, satu di antaranya white pepper crab. Sajian ini memadukan kelezatan kepiting jantan dengan cita rasa pedas dari merica putih.
”Awalnya Madam Ong (pemilik sekaligus pencetus berdirinya restoran No Sign Board di Singapura) hanya menjual white pepper crab sehingga menu ini menjadi sangat terkenal di restoran kami. Dan ternyata, memang menu ini menjadi favorit hampir setiap pengunjung,” kata Venny.
Mayoritas menu di No Sign Board adalah masakan China yang dipadukan dengan kreativitas modern tanpa mengabaikan orisinalitas rasa pada tiap bahan baku yang digunakan. Deretan menu tersebut dipastikan memiliki cita rasa yang unik, menyehatkan, dan selalu segar sesuai dengan standar resep dari Singapura yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Venny menambahkan, selain white pepper crab, para tamu restorannya juga pasti ketagihan untuk mencicipi menu chili crab yang berkualitas dengan harga terjangkau. Keunikan chili crab terletak pada cara penyajiannya yang mengoptimalkan rasa, aroma, dan tampilan.
”Keunikan lain, chili crab akan lebih nikmat jika disajikan bersama mantau goreng atau kukus,” imbuh Venny.
Di samping menu kepiting, sajian sehat berbahan dasar sayur juga tersedia di sini, satu di antaranya kailan with dry scallop. Menu ini berisi kailan yang diberi bumbu ”minimalis” seperti garam dan kaldu ayam. Yang membuatnya unik, kailan di sini disajikan bersama scallop kering yang memiliki tekstur sangat renyah.
Restoran No Sign Board berasal dari Singapura. Dulu sekitar akhir 1970-an, ia hanyalah sebuah kedai sederhana di Matter Road Hawker Centre. Saat itu kondisi keuangan sang pemilik kedai, yakni Madam Ong Kim Hoi dan suaminya, masih buruk sehingga tak mampu membeli papan nama untuk kedai kecil tersebut. Meski tidak memiliki nama, reputasi masakan yang dihasilkan rumah makan Madam Ong semakin naik berkat promosi dari mulut ke mulut pelanggannya. Tak ayal, jumlah pelanggan tetap No Sign Board jadi terus meningkat.
”Saat seseorang mereferensikan kedai kecil ini kepada temannya, mereka hanya akan berkata, ‘datang saja ke kedai seafood yang tidak memiliki papan nama’. Dari sanalah nama No Sign Board Seafood berasal,” ungkap Venny.
No Sign Board yang hadir di Central Park merupakan cabang kedua restoran ini di Indonesia setelah sebelumnya hadir di Mal Pacific Place. Restoran ini memiliki konsep kasual dengan kapasitas 210 tempat duduk. Luasnya mencapai 550 meter persegi.
”Kualitas rasa makanan yang ditawarkan sepadan dengan harga yang harus dibayar customer. Per orang dipatok harga sekitar Rp100 ribu," sebut Venny.
(ftr)