Unggulkan Cita Rasa, Sambal Pecel Jeruk Purut Tembus Mancanegara
Senin, 29 Maret 2010
17:53 wib
Muhammad Roqib - Koran SI
salah seorang penerus usaha, Jumino (55 tahun), usaha sambal pecel khas Madiun ini terus dikembangkan. (Foto: Muhammad Roqib/SI)
USAHA sambal pecel cap Jeruk Purut telah berkembang dan bertahan selama dua generasi. Bahkan, sambal pecel tak hanya dikirim ke Surabaya, Bandung, Jakarta, Palembang, dan Banjarmasin, namun juga sempat dikirim ke Belanda dan Inggris. Sambal pecel khas Madiun itu bersaing menembus pasar global.
Usaha sambal pecel yang berlokasi di Jalan Delima, Kelurahan Kejuron, Kecamatan Taman, Kota Madiun ini pertama kali dirintis oleh Roesmadji (78 tahun) pada 1985. Saat itu, dia meracik dan membuat sambal pecel sebanyak 10-20 kg per hari dan hanya dipasarkan di Kota Madiun. Namun, cita rasa dan aroma sambal pecel buatannya ternyata banyak diminati. Pesanan sambal pecel akhirnya berdatangan dari sekitar Madiun dan juga luar kota.
Saat itu, Roesmadji melihat prospek usaha tradisional sambal pecel ini cukup cerah. Dia pun mulai serius menggeluti dan mengembangkan usaha dengan mengantongi modal hanya sebesar Rp200 ribu. Untuk mengolah bahan mentah hingga menjadi sambal pecel, Roesmadji melibatkan enam anak kandungnya.
Menjaga warisan kuliner
Usaha sambal pecel Roesmadji terus berkembang. Kapasitas produksi sambal pecel yang semula hanya 10-20 kilogram terus bertambah hingga mencapai 5 kwintal per hari. Begitu pula jumlah karyawan yang semula hanya beberapa orang kini menjadi 20 orang.
Karena kondisi fisik mulai melemah, Roesmadji mewariskan usaha sambal pecel cap Jeruk Purut kepada anaknya. Pada tahun 1990-an, ketiga putra Roesmadji, yakni Jumino, Asrian, dan Asrifan meneruskan dan mengembangkan usaha tradisional sambal pecel. Menurut salah seorang penerus usaha, Jumino (55 tahun), usaha sambal pecel khas Madiun ini terus dikembangkan.
“Kami terus menjaga kualitas dan cita rasa sambal pecel cap Jeruk Purut ini. Begitu pula, pangsa pasar sambal pecel ini terus kami kembangkan,” ujarnya.
Selain menjaga kualitas bahan mentah, seperti kacang tanah, gula merah, cabai merah, cabai keriting, dan daun jeruk, cara pengolahan tradisional pun tetap dilestarikan. “Secara turun temurun, cara pembuatan sambal pecel ini tetap terjaga,” tambahnya.
Merambah pasar luar negeri
Jumino mengaku, kini di Madiun saja usaha sambal pecel cap Jeruk Purut memiliki tiga galeri penjualan, yakni di Jalan Opak, Jalan Serayu, dan Jalan Diponegoro. Untuk Jakarta dan Bandung, sedang dirintis pengembangan galeri penjualan sambal pecel sedangkan pengiriman sambal pecel ke Palembang dan Banjarmasin masih terus berlangsung.
Jumino mengatakan, sambal pecel cap Jeruk Purut ini juga pernah dikirim ke Belanda dan Inggris pada tahun 2000. Saat itu, setiap kali kirim sebanyak 2-3 kwintal. “Ada orang Belanda dan Inggris yang meminta dikirim sambal pecel ini. Pengiriman itu berjalan sekitar dua bulan. Tetapi, karena antara biaya pengiriman dengan hasil penjualan tidak menguntungkan, akhirnya kami hentikan,” ujarnya.
Kini, sambal pecel dalam kemasan 250 gram dan dihargai Rp6.500 itu masih sering dibawa para mahasiswa asal Indonesia ke luar negeri, seperti Inggris, Prancis, dan Australia. “Tapi, mereka membawa sendiri sambal pecel itu untuk dikonsumsi sendiri. Namun, terkadang juga ada yang memesan dalam jumlah banyak untuk dijual di sana,” tukasnya.
Kembangkan jalur pemasaran
Usaha tradisional sambal pecel ini terus menyesuaikan diri dengan perubahan pasar. Jumino mengaku, kalau dulu proses pemesanan dan pengiriman masih dilakukan secara sederhana. Namun kini, proses penjualan mulai memanfaatkan jaringan teknologi.
“Sekarang, pihak pemesan harus mentransfer uang dulu ke rekening bank baru kita kirim sambal pecel. Selain itu, kita juga menggunakan jaringan internet untuk memasarkan sambal pecel ini,” ujar Jumino.
Alhasil, omset sambal pecel cap Jeruk Purut terus berkembang. Kini, mereka telah memiliki dua mesin oven untuk menggoreng kacang tanah, juga peralatan pengolahan, seperti puluhan lumpang, alat penumbuk, dan penggiling bumbu. Selain itu, keuntungan usaha juga telah berbuah pick up untuk mengirim sambal pecel ke Madiun maupun luar kota. Aset yang dimiliki keluarga Roesmadji kini mencapai ratusan juta rupiah.
Meski begitu, usaha tradisional sambal pecel ini tetap harus berinovasi dan berkreasi untuk bisa bertahan di tengah persaingan pasar yang semakin ketat. Pasalnya, selain bermunculan usaha sambal pecel di Madiun dan luar daerah, kini juga banyak makanan kemasan yang tersedia di pasar tradisional dan pasar modern.
“Kami tidak mau takabur. Kami tetap harus bekerja keras untuk mengembangkan usaha sambal pecel khas Madiun ini. Bukan hanya kami, tapi pengusaha sambal pecel lainnya yang ingin berkembang dan bertahan juga harus terus berinovasi menerobos pasar,” tuturnya.
(ftr)