MENCICIPI menu yang sudah hadir selama ratusan tahun mungkin merupakan hal langka. Untuk itu, jangan lewatkan kesempatan mencoba masakan Jepang tradisional seperti yang tersaji di Restoran Nadaman.
Pencinta masakan Jepang tentu mengenal nama restoran yang terletak di Hotel Shangri-La, Jakarta ini. Ya, Nadaman memang termasuk tempat makan yang sudah populer dan hadir sejak lama, bahkan ratusan tahun lalu di Hong Kong.
Nadaman diambil dari singkatan nama pendirinya, Nadaya Mansuke. Restoran ini pertama kali didirikan pada 1830 di Negeri Sakura. Baru pada 1981, Nadaman merambah ke jaringan hotel.
”Restoran Nadaman memulai bisnis di grup Hotel Shangri-La pada 1981, yakni di Hotel Shangri-La Hong Kong,” kata Public Relations Coordinator Hotel Shangri-La Jakarta Mala Ekayanti.
Setelah Shangri-La Hong Kong, Nadaman beroperasi pula di Hotel Shangri-La Kuala Lumpur, Singapura, kemudian Jakarta pada 1996. Satu tahun kemudian, Nadaman membuka cabang di Hotel Shangri-La Beijing. Adapun saat ini, Nadaman sudah hadir di hampir seluruh cabang Shangri-La,baik di belahan dunia Timur maupun Barat.
Restoran berkapasitas 100 orang ini terkenal akan seasonal food-nya yang kerap menjadi andalan. Menu yang disajikan selalu didasarkan pada musim yang sedang berlangsung di Jepang. Misalnya kaiseki, yang menggunakan bahanbahan sangat segar yang tersedia pada musim dingin serta dinikmati saat malam tahun baru tiba. Atau menu unagi yang sangat cocok dinikmati pada musim panas.
Sajian yang juga menjadi menu terkenal di Hotel Shangri-La Jakarta ialah kamameshi atau nasi periuk yang merupakan salah satu makanan tradisional Jepang. Kamameshi dulu disantap oleh masyarakat yang tinggal di daerah pegunungan dan dinikmati sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil panen yang telah mereka dapatkan. Menu ini memiliki keistimewaan tersendiri sehingga berbeda dengan makanan Jepang lain. Keistimewaan itu terletak pada rasa gurih kamameshi karena dimasak menggunakan periuk dan disajikan juga dengan periuk. ”Uniknya, kamameshi menggunakan aneka macam topping yang diletakkan di atas nasi periuk,” imbuh Mala.
Konon, topping itu diciptakan oleh penduduk Jepang yang disesuaikan dengan daerah tempat tinggal mereka. Misalkan untuk daerah pegunungan, bahan yang digunakan sebagai
topping kamameshi umumnya adalah
sansai (sejenis sayuran) dan jamur
matsutake.
Berbeda halnya dengan yang disajikan di daerah tepian pantai, yang lazim menggunakan
topping oyster, kani, dan jenis makanan laut lain.
Executive Japanese Chef Restoran Nadaman Koji Yoshimoto mengatakan,
kamameshi termasuk menu yang banyak dipesan pada jam makan siang. Selain tamu Jepang yang memang rindu masakan tradisional asal negaranya, banyak pula tamu lokal ataupun warga asing non-Jepang yang menyukai masakan tersebut. ”Rasa gurih serta topping yang familier membuat
kamameshi mudah disukai oleh siapa pun,” kata Koji.
Restoran Nadaman memiliki empat jenis
kamameshi, yaitu
unagi kabayaki kamadaki (nasi kukus dalam periuk disajikan dengan belut panggang dan sayuran),
kaisen kamadaki (nasi kukus dalam periuk disajikan dengan potongan remis, udang, kepiting, ikan salem, dan sayuran),
gindara teriyaki kamadaki (nasi kukus dalam periuk disajikan dengan ikan gindara teriyaki dan sayuran), serta
gyuniku teriyaki kamadaki (nasi kukus dalam periuk disajikan dengan
beef teriyaki dan sayuran).
(tty)