MEMASAK bukan sekadar kegiatan menyiapkan makanan buat keluarga, tapi harus dimaknai lebih dari itu. Sebab, di dalamnya pasti juga terselip rasa cinta dan kreasi seorang ibu.
Semua orang butuh makan, itu sudah pasti. Fakta tersebutlah yang kemudian turut menyuburkan bisnis kuliner di Tanah Air dewasa ini. Bahkan, acara masak-memasak di layar televisi semakin banyak diproduksi karena peminatnya memang tidak sedikit.
Melihat para juru masak profesional beraksi di layar kaca dengan pisau ataupun wajan, rasanya cukup menyenangkan. Para ibu yang secara kodrati selalu ingin membahagiakan keluarganya, pasti memimpikan bisa melakukan hal yang sama dengan beberapa
celebrity chef itu, yakni memasak makanan yang lezat, lalu dinikmati bersama anak dan suami di rumah.
Ahli tata boga Sisca Soewitomo berpendapat, tiap wanita, khususnya kaum ibu pasti bisa memasak. Meracik bahan dan bumbu menjadi makanan sejatinya bukan pekerjaan yang sulit jika Anda punya kemauan. ”Kemauan itu bisa ditularkan dengan cara melihat siaran memasak di televisi, membaca buku resep, atau berselancar di internet. Tinggal ikuti saja langkah-langkahnya,” kata Sisca.
Sekali saja mampu menghasilkan masakan yang enak, pasti kaum ibu akan merasa senang dan termotivasi untuk terus berkreasi dengan masakannya. ”Jadi, yang benar itu bukan ibu tidak bisa memasak, melainkan belum memperlihatkan kemampuannya secara maksimal,” imbuh Sisca.
Pendapat Sisca tersebut sekaligus menyiratkan makna bahwa memasak tidak bisa dijadikan momok. Apalagi pada dasarnya memasak dapat dilakukan dengan menggunakan bahan yang ibu punya. Jadi, ibu tidak perlu mencari-cari bahan yang tidak ada.
”Yang penting ketahui terlebih dulu, ibu ingin memasak apa? Lalu siapkan bahannya secara rapi dan sistematis supaya nanti kalau sudah memasak tidak bingung mencari mana kentang, mana bahan yang lain,” saran
brand ambassador produk pelezat serbaguna Royco itu.
Untuk tahap awal, ibu tidak perlu membuat masakan yang sulit. Cukup gunakan resep yang paling sederhana, baru setelah itu ibu bisa memperluas wawasan agar mampu meracik makanan yang lebih ”kompleks”. ”Nanti, setelah mempelajari resep-resep baru dan meningkatkan keterampilan memasak, ibu akan semakin menyadari bahwa menyiapkan makanan sendiri dari awal jauh lebih berharga daripada membeli makanan di luar rumah,” papar Sisca.
Pada tahap ini, seorang ibu bisa jadi akan merasa ketagihan untuk memasak. Ibu bakal menemukan pengalaman dan kepercayaan diri, yang membuatnya terpacu untuk melakukan improvisasi resep demi memenuhi preferensi pribadi. Misalnya dengan menambahkan bahan tertentu ke dalam masakan, membuatnya lebih pedas atau lebih manis.
Keberhasilan membuat sesuatu memang bisa menyulut kepercayaan diri seseorang. Dalam hal ini, rasa percaya diri ibu terhadap masakan yang dihasilkannya juga perlu terus dipupuk. Salah satunya melalui apresiasi yang diberikan keluarga.
”Pujian dari keluarga secara tidak langsung dapat meningkatkan rasa percaya diri ibu. Eksistensi seorang ibu memang bisa diperoleh melalui penghargaan dari lingkungan terkecil seperti keluarga,” kata psikolog Dr Rose Mini A Prianto MPsi atau yang akrab dipanggil Romi.
Apresiasi yang melahirkan kepercayaan diri kemudian berubah menjadi motivasi. Dalam kondisi ini, seorang ibu bisa dipastikan akan terus terpacu untuk berusaha menyuguhkan sajian yang terbaik buat anak dan suami. Salah satu bentuk usahanya adalah meningkatkan keahlian memasak. Mengenai hal ini, Romi menyarankan agar ibu senantiasa berpikir optimistis bahwa dirinya bisa belajar dan mengimprovisasi diri. ”Keinginan untuk memasak memang harus ditumbuhkan dari dalam diri,” imbuhnya.
(tty)