Sate Susu, Penganan Khas Ramadan Warga Denpasar
Rabu, 18 Agustus 2010
16:06 wib
Rohmat - Okezone
Sate susu terbuat dari susu sapi yang ditaburi bumbu plus sambal tomat. (Foto: google)
SAAT Ramadan tiba, warga Kota Denpasar dan sekitarnya bersiap mencari menu khas berupa sate susu sapi. Uniknya selepas Ramadan, penganan ini tak akan bisa ditemui pencintanya.
Sejak hari pertama bulan Ramadan, Kampung Jawa, Denpasar, berubah menjadi sentra kuliner baru yang menjadi magnet warga metro Denpasar. Di pengujung jalan Ahmad Yani sampai masuk ke Gang Masjid, puluhan penjual penganan dadakan berderet rapi menjajakan aneka menu untuk santap buka hingga sahur. Mereka menjajakan aneka masakan dan minuman di atas meja kayu sejak pukul 15.00 WITA hingga waktu berbuka puasa tiba. Bahkan, beberapa penjual masakan ada yang buka sampai dini hari saat sahur.
Salah satu menu kuliner yang laris manis diserbu pembeli adalah sate susu sapi. Jika biasanya orang mencari sate kambing, pada bulan puasa sate susu sapi justru diburu banyak orang. Menu ini khusus disajikan untuk menambah selera saat berbuka puasa. Konon, sate susu yang hanya ditemukan di Kampung Jawa, Denpasar, ini terasa lebih nikmat saat disantap pada bulan Ramadan. Sate susu terbuat dari susu sapi yang ditaburi bumbu plus sambal tomat.
"Sate susu ini memang paling laris dibanding sate daging dan sate usus," kata H Muhammad Ali, salah seorang pedagang di Kampung Jawa, Denpasar, saat ditemui okezone, belum lama ini.
Dijelaskan Ali, sate susu dengan empat irisan daging susu memang diminati banyak pembeli bahkan ia sampai kewalahan melayani permintaan.
"Saya buat 400 tusuk langsung habis belum sampai waktu buka puasa," akunya dengan wajah sumringah.
Satu tusuk sate susu rata-rata dijual Rp1000, sama dengan harga satu tusuk sate daging sapi. Ali juga tidak mengetahui persis bagaimana pembeli begitu menyukai sate susu ketimbang sate ayam atau daging kambing.
"Kalau Ramadan yang dicari ya sate susu di sini, setelah Ramadan selesai tidak ada yang mencari sate susu," tuturnya.
Karena itu, sate susu hanya dibuat setahun sekali dan jangan harap di hari biasanya ada pedagang makanan musiman akan menjual sate susu. Banyaknya penggemar sate susu kerap membuat pedagang kehabisan dagangannya. Warga bahkan rela harus antre berderet di depan meja jualan hanya untuk menunggu sate susu selesai dibakar.
Di kampung Jawa, setidaknya ada 10 penjual sate susu yang dagangannya selalu habis diborong pembeli. Salah seorang penjual mengaku sehari bahkan sampai menghabiskan 5 kg susu sapi untuk dibuat sate khas bulan Ramadan itu.
Banyaknya warga yang menyukai sate susu juga diakui Sasa, warga asal Sading, Mengwi Badung yang rela pergi jauh dan antre membeli sate susu ke Kampung Jawa.
"Satenya enak sih, kalau sate daging sudah biasa, tapi kalau sate susu rasanya lebih nikmat, makanya saya buru-buru beli, takut kehabisan," kata Sasa. Sasa mengaku, setiap Ramadan selalu datang membeli sate susu di Kampung Jawa.
Selain sate susu, warga yang hendak mempersiapkan menu berbuka juga bisa memilih aneka masakan lainnya, mulai sayur mayur, kering tempe, kering ikan teri, abon sapi, tahu dan kentang sambel goreng, pepes ikan laut, hingga ayam goreng. Selain itu, tak ketinggalan memu minuman, mulai kolak, es campur, es rumput laut, aneka jus, dan es kelapa hijau yang dijajakan dalam kemasan gelas plastik kisaran harga Rp2000-Rp3000.
Setiap datang bulan puasa, warga setempat menyambut dengan berbagai kegiatan keagamaan. Nuansa Ramadan 1431 H ini memang terasa berbeda di kampung muslim terbesar di Denpasar itu. Selain disemarakkan kegiatan tarawih dan tadarusan, juga oleh kehadiran pedagang kaget yang menjual beragam kuliner dengan harga terjangkau. (ftr)