Getting Time...
OKEFOOD | MakanYuk

Nikmatnya Sop Sumsum & Nasi Gurih Kota Magelang

Kamis, 9 Desember 2010 12:02 wib
Chaerunnisa - Okezone
detail berita
Sop Sumsum & Nasi Gurih Magelang (Foto: Wina S)
SEJAK siang hari hujan deras mengguyur Kota Magelang. Tak ayal, udara dingin semakin menusuk tulang hingga malam hari. Perut pun mengisyaratkan rasa lapar. Saya yang berada di kota militer itu untuk menghadiri acara keluarga, berusaha mencari menu khas Magelang yang bisa mengisi perut sekaligus menghangatkan tubuh.

Sepengetahuan saya, di kota ini ada sup senerek yang terkenal. Tapi menurut karyawan hotel, warung senerek hanya buka siang hari. Ia menganjurkan untuk mencoba bakmi godog Magelangan. Saya kurang tertarik oleh tawaran itu, karena sudah sering menikmati bakmi Jawa yang menjamur di Jakarta.

Saat itu, keponakan saya menginformasikan tentang sop sumsum yang informasinya ada di internet. Setelah membacanya, kami pun tertarik untuk memburu menu baru tersebut.

Bersama suami, dan keponakan, kami langsung meluncur menuju warung makan yang terletak di daerah Panca Arga, Magelang Selatan.

Ternyata, tidak susah menemukan warung baru tersebut. Spanduk merah berbalut lampu hias bertuliskan "Nasi Gurih dan Sop Sumsum" terpampang jelas di muka rumah makan yang terletak tidak jauh dari perempatan Pakelan.

Warung sederhana itu tidak terlalu besar. Hanya ada tiga meja makan untuk empat orang di warung makan yang ditata di carport rumah. Dua meja sudah terisi tamu. Sepasang remaja dan satu keluarga telah lebih dulu ada di rumah makan itu.

Setelah membaca menu, kami tertarik memesan dua porsi sop sumsum, satu nasi putih, dan dua nasi gurih yang disebut spesial di warung itu.

"Sebenarnya, sup kami banyak jenisnya mbak. Ada daging, lidah, iga, kaki. Tapi yang kami populerkan sop sumsum. Karena di Magelang, makanan seperti ini tergolong baru dan unik," kata pemilik warung, Antie.

"Dan sebagian besar konsumen memang mencoba sup ini," sambung Antie yang baru membuka warung sekira dua bulan lalu.

Setelah memesan, dua porsi nasi gurih, dengan aneka pilihan lauk ayam, empal, tempe, dan tahu tersaji di atas meja kami.

"Supnya memang agak lama, karena kami memasak lagi kuahnya, biar terasa lebih segar," papar wanita 30 tahun itu.

Tanpa menunggu sup dihidangkan, kami tergerak untuk mencicipi nasi gurih. Suami saya langsung mengangkat jempol mengisyaratkan kelezatan nasi gurih tersebut. Sehingga membuat saya penasaran dan ingin mencicipinya. Sesuap nasi dari piring suami saya makan bersama sambal petai. Pada suapan pertama, saya langsung bisa menikmati gurihnya nasi tersebut.

"Yang juga istimewa, sambalnya ini lho, nikmat dan nendang banget. Mungkin karena campuran petainya yang ikut menggugah selera," kata suami saya.

Selain sambal petai, saya menduga daun kemangi yang berada di sela-sela nasi ikut menambah aroma nasi. Tapi darimana rasa gurih yang menggigit itu? Apa sama dengan nasi uduk khas Jakarta?

"Tidak sama dengan nasi uduk yang menggunakan santan. Nasi Gurih ini hanya perpaduan nasi dan rempah-rempah, ditambah ikan jambal roti yang dihaluskan," ungkap Antie.

Tak terasa, kurang dari 10 menit dua porsi nasi gurih telah tersantap habis. Dua porsi sop sumsum yang tersaji hanya ditemani satu porsi nasi putih. Saat memasukkan suapan pertama kuah sop sumsum, langsung menanamkan kesan tersendiri di hati kami.

"Segar, dan tidak eneg seperti sop kaki Betawi yang pakai santan dan minyak samin," komentar suamiku.

Saya merasakan perpaduan kayu manis, bunga pala, dan daun bawang yang kuat, membuat sop sumsum yang memiliki kuah bening terasa segar. Apalagi disajikan dalam kondisi panas. Sehingga kesegarannya makin terasa. Dan yang pasti, kuahnya ikut menghangatkan badan di tengah dingin udara Magelang yang mencapai puncak di awal Desember ini.

Sumsumnya tersaji dalam potongan tulang utuh yang terlihat memenuhi mangkuk lumayan besar. Untuk mendapatkan sumsumnya, perlu perjuangan tersendiri. Kami harus mencocok-cocoknya dengan sedotan plastik, dan kemudian menghisapnya. 

Ada sensasi tersendiri ketika sumsum yang tidak banyak jumlahnya itu berhasil disedot sampai tuntas. Selain sumsum, pada tulang-tulang itu juga masih menempel sisa-sisa daging yang gurih dan kenyal-kenyal empuk. Kembali sensasi nikmat kami rasakan ketika sisa-sisa daging memasuki mulut.

Kok bisa seempuk ini mbak? "Kami memasak tulang-tulang itu pada panci presto dalam waktu cukup lama," jelas ibu dua putri itu. 

Selain harus melakukan perjuangan keras, kuah sup ini memberikan kesan tersendiri. "Susah dicari bandingnya," puji suami saya, yang telah mencoba berbagai kuliner di Tanah Air.

Lantas, kami harus merogoh berapa banyak untuk membayar santapan nikmat ini? Ternyata, hanya Rp55 ribu. Memang tidak mahal. Untuk seporsi nasi gurih kami harus membayar Rp5.000, sedangkan sop sumsum dibanderol Rp10.000. Sementara untuk pilihan lauk bervariasi, untuk tahu atau tempe dipatok Rp1.000, ayam goreng Rp5.000, dan empal Rp6.000.

Buat Anda pencinta kuliner yang kebetulan melintas Magelang, tak ada salahnya berwisata kuliner ke Warung Makan "A&A" Magelang, Jalan Sarwo Edi Wibowo 112, Panca Arga, Magelang Selatan.

(Artikel kiriman dari Wina S, Jakarta Selatan). (nsa)

Berita Terkait : Makan Yuk

Beri komentar

 
 

Lifestyle

Panggung Fesyen Sekadar Jual Mimpi?
Kehadiran model sebagai mediator desainer terhadap pelanggannya memang perlu disesuaikan dengan kebutuhan. Model tidak sekadar merepresentasi keindahan busana, tapi juga mewakili realita pasar sesungguhnya.

Celebrity

Virta Masih Pajang Foto Mesranya dengan Bubu
Virta Rachadania Maladi tidak mau menghapus foto mesranya dengan Raja Mohammad Syazni alias Bubu, pacar Syahrini, di jejaring sosialnya.

Travel

Megahnya Gereja Salju Bavaria
yang satu ini sungguh unik. Ya, gereja yang terdapat di Desa Mitterfirmiansreut, Bavaria, Jerman ini terbuat dari es. Pasti Anda membayangkan betapa dingin berada di dalamnya.