Getting Time...
OKEFOOD | Pinggir Jalan

Steak Wagyu yang Lembut di Steak Hotel Holycow

Johan Sompotan - Okezone
Selasa, 9 Agustus 2011 17:48 wib
detail berita
Steak Hotel Holycow (Foto: Johan Sompotan)
SAAT Anda melintasi kawasan elite Jakarta Selatan, tepatnya di daerah Senopati, pasti akan mendapati kepulan asap yang hadir dari resto Steak Hotel Holycow. Di resto berbentuk minimalis itu selalu ramai dikunjungi para pencinta kuliner, khususnya steak.

Jika penasaran ingin mencicipi steak wagyu, tidak ada salahnya berhenti sejenak di resto yang sudah berdiri sejak 15 Maret 2010. Resto Steak Hotel Holycow tidak banyak menggunakan furnitur, hanya permainan warna merah tampak mendominasi yang menjadikannya ciri khas.

Begitu masuk ke resto ini, Anda akan disapa ramah dari semua pelayan yang membuat Anda merasa seperti berada di rumah sendiri. Konsep tersebut telah diusung oleh pemilik resto Steak Hotel Holycow ini, Winda dan Lucy, serta kedua suami mereka.

"Untuk interior, kita dominan sama merah karena logo kita merah putih, dan sisanya ke preferensi berempat saja. Yang penting cozy, enak, dan cocok untuk family," kata Winda saat ditemui okezone di resto Steak Hotel Holycow, Jalan Bhakti No. 15, Senopati, Jakarta Selatan, Senin (8/8/2011).

Berawal dari hobi gemar menyantap steak, resto cabang Radio Dalam, Jakarta Selatan ini dibuka.

"Kita ingin menyajikan steak yang berkualitas tapi murah bukan murahan, dan menu kita spesial wagyu. Ada beberapa varian wagyu, yaitu wagyu sirloin, tenderloin, burger wagyu, dan wagyu rib eye. Non-wagyu juga ada, Australian dan New Zealand memang menggunakan daging impor," jelasnya.

Untuk mencicipi daging sapi wagyu memang tidak murah, Anda harus merogoh kocek yang banyak.

"Wagyu itu daging yang enak dan dimana-mana makan wagyu pasti mahal, satu porsi bisa mencapai Rp300 ribuan. Gimana caranya orang bisa mencicipi wagyu tapi murah dan kualitas enak. Kita membuka konsep warung wagyu dan kita adalah warung pertama yang memelopori steak wagyu dengan konsep warung dengan harga murah, tapi menjaga kualitas terbaik," ungkapnya.

Lantas, bagaimana cara penyajian Steak Hotel Holycow? Berbeda dengan penyajian steak pada umumnya dengan daging sapi yang sudah dilumuri saus barbeque, campuran sayuran wortel, buncis, serta jagung berbaur dengan kentang.

Dari aroma, bentuk daging, serta saus yang disajikan steak wagyu ini hanya dilengkapi satu macam sayuran, yaitu sejenis buncis atau kacang panjang. Yang membedakan hanya sausnya, jamur mushroom bersatu dengan sejenis mayonaise.

"Sausnya tidak diguyur, steaknya kering dan terpisah, kita ingin konsumen mencoba rasa dagingnya yang masih segar. Kalau western bumbunya terpisah, sausnya juga beda banget. Sayuran kita pilih natural karena tidak mau follower," imbuhnya.

Dengan resto berkapasitas 70 orang (Senopati) dan 60 orang (Radio Dalam), dalam satu hari Steak Hotel Holycow bisa menjual 100 hingga 300 steak wagyu.

Jika penasaran ingin mencicipi steak wagyu yang terkenal dengan kelembutannya ini, Anda bisa mencobanya di TKP Radio Dalam mulai Senin-Sabtu pukul 16.30 WIB, dan khusus Minggu pukul 17.30 WIB.

Sementara itu untuk TKP Senopati mulai Senin-Minggu buka pukul 11.00-14.00 WIB, dan buka kembali pada pukul 17.30 WIB. Dengan harga mulai dari Rp47.500 hingga Rp150 ribu, Anda bisa mencicipi kelezatan steak wagyu di Steak Hotel Holycow. (nsa)
Download dan nikmati kemudahan mendapatkan berita melalui Okezone Apps di Android Anda.

Berita Terkait : Pinggir Jalan

Facebook Comment List

FAVORIT CELEB

 
 
BACA JUGA »

Lifestyle

Tujuh Alasan Utama Karyawan Mengundurkan Diri (1)
Menemukan pekerjaan yang memberikan gaji baik terkadang tidak cukup. Ada lebih banyak definisi tentang konsep "pekerjaan yang memuaskan".

Celebrity

Pakai Rok Pendek, Marshanda Kabur Ditanya Isu Selingkuh
Marshanda (Chacha) tak menghadiri sidang lanjutan perceraiannya di Pengadilan Agama (PA) Jakarta Pusat, pagi tadi. Namun rupanya, Chacha justru menghadiri acara talk show di Studio Hanggar, Pancoran, Jakarta Selatan, sore ini.

Travel

Keseruan Memancing di Atas Ranting
Umumnya, memancing biasa dilakukan di atas karang tebing laut sambil duduk santai. Tapi apa jadinya kalau traveler memancing dengan duduk di atas sebilah ranting pohon di tengah laut?