Getting Time...
OKEFOOD | Daerah

KAI ganti logo

Perjalanan 66 tahun kereta api Indonesia

Iman Herdiana (Okezone) - Okezone
Rabu, 28 September 2011 14:16 wib
detail berita
Logo baru KAI (Iman Herdiana
Sindonews.com - Naik kereta api … tut … tut … tut. Siapa hendak turut. Ke Bandung … Surabaya. Bolehlah naik dengan percuma. Ayo temanku lekas naik, keretaku tak berhenti lama. Cepat keretaku jalan …tut…tut…tut. Banyak penumpang turut. K’retaku sudah penat. Karena beban terlalu berat. Di sinilah ada stasiun. Penumpang semua turun.

Itulah lirik lagu anak-anak yang cukup lawas. Mungkin Anda masih hafal dengan lagu itu yang menyiratkan bagaimana melakukan perjalanan dengan kereta api. Dulu, naik kereta sangat menyenangkan karena menjadi transportasi favorit yang menjadi andalan. Selama di perjalanan bisa menimati pemandangan alam yang indah. Gunung-gunung yang hijau dan sawah yang menguning ketika padi jelang panen.

Masih menyenangkankah berkereta api saat ini? Jawabannya pasti beragam. Hal itu tidak terlepas dari perkembangan sarana transportasi yang berevolusi dari waktu ke waktu sesuai kemajuan teknologi. Sekarang ada bus, pesawat, kapal laut. Ada mobil, motor hingga pesawat jet pribadi. Silakan, mana yang akan dipilih. Ingin nyaman dan aman, tentunya harus merogoh kocek dalam-dalam.

Bicara soal kereta, hari ini Kereta Api Indonesia tepat berusia 66 tahun. Di momen penting ini, logo dan mars PT KAI mengalami perubahan. Perubahan secara resmi tersebut dilakukan bersamaan dengan perayaan hari ulang tahun (HUT) ke-66 PT KAI di kantor pusat Bandung, Jawa Barat, Rabu (28/9/2011).

"Hari ini kita rayakan 66 tahun PT KAI persero. Pencanangan logo baru ini diharapkan jadi simbol berubahnya layanan KA jadi lebih baik. Kita jadi makin semangat dalam membawa perubahan lebih baik untuk layani jasa perkeretaapian," kata Direktur Utama PT KAI Ignatius Johan saat persemian logo PT KAI dan upacara perayaan HUT ke-66 PT KAI di Bandung, Rabu (28/9/2011).

Dalam upacara itu, logo KAI yang baru secara simbolis diserahkan kepada Deputi Bidang Logistik dan Infrastruktur Kementerian BUMN Sumaryanto, Dirjen Perkeretaapian Kementerian Perhubungan Tundjung Indrawan, dan Direktur Utama PT KAI Ignatius Johan.  Dalam upacara juga dikumandangkan mars PT KAI yang baru.

Di usianya yang menginjak setengah abad lebih, memang PT KAI sudah banyak mengalami kemajuan. Hal itu terlihat dengan berkembangnya bisnis perusahaan plat merah ini dari waktu ke waktu. Layanan pun semakin banyak dan beragam. Kendati demikian, PT KAI masih dihadapkan sejumlah persoalan di antaranya masih tingginya angka kecelakaan dan belum optimalnya pelayanan.

Hal ini tentu berdampak pada kenyamanan dan keselamatan penumpang dalam menggunakan kereta api. Kasus tabrakan atau kereta api anjlok masih menjadi momok menakutkan bagi penumpang. Di samping itu tuntutan akibat persaingan di bisnis transportasi mengharuskan PT KAI terus berbenah diri.  Semoga ke depan, kereta api menjadi moda andalan transportasi publik yang aman, nyaman, dan terjangkau bagi semua lapisan masyarakat. Dirgahayu Kereta Api Indonesia.

Sejarah kereta api

Kehadiran kereta api di Indonesia ditandai dengan pencangkulan pertama pembangunan jalan KA di desa Kemijen, Jumat tanggal 17 Juni 1864 oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Mr. L.A.J Baron Sloet van den Beele. Pembangunan diprakarsai oleh “Naamlooze Venootschap Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij” (NV. NISM) yang dipimpin oleh Ir. J.P de Bordes dari Kemijen menuju desa Tanggung (26 Km) dengan lebar sepur 1435 mm. Ruas jalan ini dibuka untuk angkutan umum pada hari Sabtu, 10 Agustus 1867.

Keberhasilan swasta, NV NISM membangun jalan KA antara Kemijen-Tanggung yang kemudian pada 10 Februari 1870 dapat menghubungkan kota Semarang-Surakarta (110 Km), akhirnya mendorong minat investor untuk membangun jalan KA di daerah lainnya. Tidak mengherankan, kalau pertumbuhan panjang jalan rel antara 1864 - 1900 tumbuh de-ngan pesat. Kalau tahun 1867 baru 25 Km, tahun 1870 menjadi 110 Km, tahun 1880 mencapai 405 Km, tahun 1890 menjadi 1.427 Km dan pada tahun 1900 menjadi 3.338 Km.

Selain di Jawa, pembangunan jalan KA juga dilakukan di Aceh (1874), Sumatera Utara (1886), Sumatera Barat (1891), Sumatera Selatan (1914), bahkan tahun 1922 di Sulawasi juga telah dibangun jalan KA sepanjang 47 Km antara Makasar--Takalar, yang pengoperasiannya dilakukan tanggal 1 Juli 1923, sisanya Ujungpandang - Maros belum sempat diselesaikan. Sedangkan di Kalimantan, meskipun belum sempat dibangun, studi jalan KA Pontianak - Sambas (220 Km) sudah diselesaikan. Demikian juga di pulau Bali dan Lombok, pernah dilakukan studi pembangunan jalan KA.

Sampai dengan tahun 1939, panjang jalan KA di Indonesia mencapai 6.811 Km. Tetapi, pada tahun 1950 panjangnya berkurang menjadi 5.910 km, kurang lebih 901 Km raib, yang diperkirakan karena dibongkar semasa pendudukan Jepang dan diangkut ke Burma untuk pembangunan jalan KA di sana. Jenis jalan rel KA di Indonesia semula dibedakan dengan lebar rel kereta 1.067 mm; 750 mm (di Aceh) dan 600 mm di beberapa lintas cabang dan tram kota.

Jalan rel yang dibongkar semasa pendudukan Jepang (1942 - 1943) sepanjang 473 Km, sedangkan jalan KA yang dibangun semasa pendudukan Jepang adalah 83 km antara Bayah - Cikara dan 220 Km antara Muaro - Pekanbaru. Ironisnya, dengan teknologi yang seadanya, jalan KA Muaro - Pekanbaru diprogramkan selesai pembangunannya selama 15 bulan yang mempekerjakan 27.500 orang, 25.000 diantaranya adalah Romusha. Jalan yang melintasi rawa-rawa, perbukitan, serta sungai yang deras arusnya ini, banyak menelan korban yang makamnya bertebaran sepanjang Muaro- Pekanbaru.

Setelah kemerdekaan Indonesia diproklamir-kan pada tanggal 17 Agustus 1945, karyawan KA yang tergabung dalam “Angkatan Moeda Kereta Api” (AMKA) mengambil alih kekuasa-an perkeretaapian dari pihak Jepang. Peristiwa bersejarah tersebut terjadi pada tanggal 28 September 1945. Pembacaan pernyataan sikap oleh Ismangil dan sejumlah anggota AMKA lainnya, menegaskan bahwa mulai tanggal 28 September 1945 kekuasaan perkeretaapian berada di tangan bangsa Indonesia. Orang Jepang tidak diperbolehkan campur tangan lagi urusan perkeretaapi-an di Indonesia. Inilah yang melandasi ditetapkannya 28 September 1945 sebagai Hari Kereta Api di Indonesia, serta dibentuknya “Djawatan Kereta Api Republik Indonesia” (DKARI).

Setelah itu, perusahaan perkeretaapian ini mengalami beberapa kali perubahan status dari DKARI menjadi, PNKA (1963-1971), PJKA (1971-1991), Perumka (1991-1998), PT Kereta Api, persero (1998-2010) dan sejak Mei 2010 sampai sekarang menjadi PT Kereta Api Indonesia (Persero).




(ram)
Download dan nikmati kemudahan mendapatkan berita melalui Okezone Apps di Android Anda.

Berita Terkait : Kereta api

Facebook Comment List

 
 
BACA JUGA »

Lifestyle

Treatment Baru Pengencang Miss V, Penasaran?
Untuk mengencangkan organ intim biasanya seseorang melakukan treatment ratus atau minum sejumlah ramuan. Namun kini, ada cara aman dan instan mendapatkan kekencangan Miss V.

Celebrity

Dul Tak Tinggal Bareng Dhani Lagi Bukan karena Dipaksa Maia
Kabar mengenai Dul sudah tinggal bersama ibunda tercintanya, Maia Estianty tampaknya sudah bukan rahasia lagi. Guru spiritual sekaligus sahabat Maia, Umi Nung, membenarkan kabar tersebut. Dul sendiri yang memilih untuk tinggal bersama Maia.

Travel

Timor Leste Kini Favorit Backpacker Pemberani
Timor Timur, negara dengan konflik kekerasaan yang pada akhirnya melepaskan diri dari Indonesia. Setelah kemerdekaan diperoleh negara ini lebih dari satu dekade lalu, Timor Timur atau yang secara resmi kini menjadi Timor Leste menderita kemiskinan dan ketidakpastian politik.