Warkop Pangku Manggar, Ngopi sambil Mangku
Jum'at, 14 Oktober 2011
14:30 wib
Hermanto -
Okezone
Warkop Pangku Manggar (Foto: Hermanto/Okezone)
PERNAHKAH Anda mendengar kopi pangku? Bila belum, datanglah ke Manggar, Belitung Timur.
Entah siapa yang pertama kali melontarkan istilah kopi pangku tersebut, tapi kenyataannya memang sudah banyak para penikmat kopi menikmati hangatnya kopi sambil memangku sang pelayan.
Banyak para pelayan warung kopi di Manggar yang masih berusia muda dan hanya mengenakan celana pendek saat melayani pelanggannya. Para pelayan warung kopi itu pun bukan penduduk lokal, mereka biasanya datang dari wilayah Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, bahkan Nusa Tenggara Barat.
Salah satunya adalah pelayan warung kopi di Jalan Trem, pelayan warung kopi tersebut berasal dari Bogor, Jawa Barat. Pelayan yang bertubuh sintal ini bermuka masam ketika okezone datang.
Ketika ditanya kenapa mau jauh-jauh datang dari Bogor hanya untuk menjadi pelayan kopi, dia hanya mengelak dan mengatakan, ”Ini lebih parah (sambil menunjuk salah satu temannya), dia tiga kali naik pesawat untuk jadi pelayan kopi”.
Salah satu pelayan tersebut ketika ditanya mengaku berasal dari Lombok, tapi dia enggan mengatakan alasan lebih tertarik menjadi pelayan kopi yang berpenghasilan Rp400-500 ribu sebulan.
Salah satu pelanggan kopi asal Tanjung Pandan, Belitung Andi (30) mengatakan, bahwa ada beberapa warung kopi yang melayani pelanggannya sambil memberikan layanan pangkuan.
”Banyak bang kalau yang kaya gitu di sini, tapi memang enggak semuanya ada. Itu juga ada biaya tambahan, yah ibaratnya uang tip buat mereka,” ujar pria keturunan ini.
Lain lagi dengan pernyataan Maman (26), pria yang sudah bekerja sebagai pelayan kopi selama 4 tahun ini mengatakan, bahwa di warung kopinya tidak melayani pangkuan seperti itu.
”Enggak ada mas, kami di sini melayani kopi saja seperti biasa. Para pelanggan juga biasanya asyik untuk main gaple dan remi, tapi itu juga enggak ada yang pakai duit. Senang-senang saja,” ujarnya saat ditemui di Warung Kopi Akui.
Ironisnya, banyak kaum muda usia sekolah yang ikut menikmati kopi di beberapa warung kopi remang-remang. Mereka biasanya keluar malam hari dan akhir pekan. Kebiasaan ini mereka sebut "biak-biak" ajang kumpul anak muda.
(tty)