Autentik Jepang ala Torigen
Jum'at, 18 November 2011
11:50 wib
SINDO
(Foto: gettyimages)
HAMPIR semua restoran Jepang di Jakarta mengaku menawarkan menu autentik Jepang. Namun, hanya Torigen yang berani menyajikan keaslian budaya Negeri Sakura.
”Irasshaimase,”ujar beberapa orang staf mengucapkan selamat datang begitu SINDO membuka pintu geser model Jepang di restoran Torigen. Langsung saja mata dibuat terpana dengan interior restoran yang berlokasi di Jalan Wijaya I, Kebayoran Baru, tersebut.
Tidak tanggung-tanggung, demi mengusung keautentikan budaya Jepang, restoran yang didominasi nuansa kayu itu dirancang tidak jauh berbeda dengan restoran yang bisa ditemukan di negeri asalnya. Terdapat bilik-bilik kayu yang memisahkan antara meja satu dan yang lain sehingga privasi lebih terjaga.
Selain meja dan kursi yang terbuat dari kayu, lampu-lampu Jepang yang juga terbuat dari kayu berbentuk seperti papan catur ditempatkan di dalam restoran. Menambah kekhasan ambians nuansa Jepang, di langit-langit digantung lampion berwarna merah dan putih.
Gorden bertuliskan huruf kanji menutupi sebagian pintu yang ada meski tidak sampai menyentuh lantai. Di sudut terdapat bar untuk meracik minuman. Tambahan lagi, tayangan televisi sengaja memasang siaran dari NHKJepang. Lengkaplah sudah sensasi ala restoran Jepang yang ditawarkan Torigen.
Belum lagi di sana-sini terdengar percakapan berbahasa Jepang yang dilakukan kalangan ekspatriat asal Negeri Matahari Terbit. Menurut Manajer Torigen Dedy Indratama, awalnya hanya warga negara Jepang yang gemar menikmati santapan asal kampung halamannya. Lama-kelamaan, warga asing lain juga mulai berdatangan. Tak ketinggalan, orang kita yang juga fanatik dengan hidangan Jepang.
“Kira-kira 50 lokal, 50 ekspatriat, perbandingan pengunjungnya,” kata Dedy, memulai pembicaraan.
Pembicaraan lalu masuk ke menu-menu yang dibawakan restoran berkapasitas 100 orang ini. Untuk menu pembuka atau yang dinamakan oden, tersedia banyak pilihan dan bisa langsung diambil sendiri.
Oden adalah makanan pembuka berkuah. Pilihannya antara lain agedashi tofu, daikon, tamago, satsuna age, chikuwa, kusiten, dan kon nyaku. Dedy berkata, hampir sebagian besar bahan yang digunakan untuk membuat hidangan Jepang di restoran ini didatangkan langsung dari negara tersebut. Hal ini demi menjaga keaslian cita rasanya.
Bila biasanya restoran asing menyesuaikan rasa masakannya agar lebih pas dengan lidah orang Indonesia,tidak demikian dengan Torigen. Sambil menunggu pesanan datang, pengunjung juga bisa memesan salad ala Jepang, seperti wakame salad yang paling populer, ebikami salad, dan maguro and avocado salad.
Sate Jepang atau yakitori bisa dicicipi oleh Anda yang penasaran ingin merasakannya. Isinya ada udang, daging sapi, ayam, dan jamur. Seperti dikatakan Dedy sebelumnya bahwa bahan-bahan yang digunakan diimpor, contohnya ikan sanma, sisymo, saba, dan gindara.
Saba dan gindara mungkin bisa ditemukan di negara lain, namun yang hanya ada di perairan Jepang adalah sanma dan sisymo. Karena itu, kedua ikan ini cukup laris manis.Bentuknya seperti ikan kembung, dan untuk pengolahannya bisa dipanggang.
Aneka udon dan ramen pun bisa ditemukan di sini. SINDO merekomendasikan nagasaki sara udon atau nagasaki champon. Keduanya memang andalan Torigen.
“Kuah kaldunya tidak bisa ditemukan di restoran lain,” kata Dedy.
Untuk ramen, menu yang menjadi best seller di antaranya sio ramen yang rasanya asin, chanko miso ramen rasanya gurih, dan kimchi ramen yang rasanya asam sekaligus pedas. Adapun yang membuat Torigen istimewa adalah penyajian menu rebusannya yang bisa disantap beramairamai. Ada syabu-syabu, chanko nabe, dan nakata mizutaki. Ketiganya sama-sama rebus-rebusan, tapi yang membuat berbeda adalah kuahnya.
Syabu-syabu kuahnya dari kaldu daging sapi, sedangkan chanko nabe rasanya sama seperti kuah sup miso. Sementara nakata mizutaki dari kaldu ayam. Chanko nabe, isinya lengkap, mulai daging sampai sayuran. Lihat saja, ada rebung, kacang polong, jamur, wortel, bawang bombai, sawi putih, tofu, ayam, daging sapi, udang, dan salmon. Porsinya yang cukup banyak sehingga bisa dinikmati oleh 2-3 orang.
Jepang juga punya nasi liwet lho,namanya syake kamameshi. Sebenarnya ini adalah nasi kerak. Jadi, nasi berada di bagian bawah pinggan tahan panas dengan kacang polong, jamur, daging, belut, udang, ataupun ayam di bagian atasnya. Sajian ini diberikan bersama sup miso.
Uniknya,di dalam restoran ditempatkan semacam warung takoyaki. Di bagian dindingnya ditempel foto-foto warung di Osaka yang menjajakan takoyaki. Sebelum melepas kudapan berisi gurita ini ke konsumen, terlebih dahulu pihak restoran meminta pelanggan asal Osaka untuk menguji rasanya. Ketika sudah oke, barulah camilan ini ditawarkan. (ftr)