Saat Kuliner Nusantara Perlu Standarisasi
Senin, 6 Februari 2012
15:46 wib
Johan Sompotan -
Okezone
(Foto:ziarahduniaipa1.xtreemhost)
KULINER Tanah Air semakin menunjukkan perkembangan pesat dengan varian olahannya. Namun, tak sedikit yang akhirnya salah kaprah hingga dibutuhkan standardisasi untuk penyeragaman.
"Kuliner di Indonesia harus ada standarisasi. Kalau tidak, maka akan dibilang menipu, makanya banyak makanan di Indonesia yang salah kaprah," ucap Bondan Winarno selaku pencinta kuliner kepada okezone usai acara “Pesona Kuliner JNE” di fx Lifestyle X’nter, Jakarta , belum lama ini.
Menurutnya, faktor salah kaprah pada makanan Nusantara tidak sebatas pada penamaan, tapi juga meliputi penyajian makanan. Sebagai contoh, Anda pergi ke Solo lalu makan daging rica-rica, karena Anda sudah pernah ke Manado—daerah asal daging rica-rica—, maka Anda akan mengharapkan sajian tersebut mirip dengan yang terdapat di Manado. Ternyata, penyajiannya jauh berbeda, terutama pada sambal sebagai ciri khasnya.
“Ini bukan rica-rica, tetapi balado. Balado dan rica-rica itu berbeda. Karena tidak ada standar, maka orang semaunya saja kasih nama," lugasnya.
Bondan menambahkan, standarisasi kuliner perlu dilakukan terlebih masyarakat Indonesia kini mulai memahami dunia kuliner. Mereka semakin memberikan apresiasi tinggi terhadap kuliner lokal.
“Semua mencari makanan daerah, kita harus lebih berhati-hati dalam mengemas makanan, jangan sebatas memberi nama makanan. Tidak jadi negatif (dampaknya), tapi karena sedang dalam taraf perkembangan, maka kita harus lakukan secara benar," tutupnya.
(ftr)