Berburu Makanan Tradisional Secara Diam-Diam
Selasa, 21 Februari 2012
19:00 wib
SINDO
Aktivitas Azanaya (Foto: urbanesia)
WISATA kuliner sudah biasa. Namun, kalau dilakukan diam-diam, bahkan peserta wisatanya pun tak tahu soal lokasi dan makanannya, itu baru tak biasa.
Inilah yang dinamakan Underground Secret Dining (USD). Kegiatan yang terpilih sebagai best event dari Time Out Jakarta 2010 ini dirancang dan dikoordinasi oleh sebuah event planner bernama Azanaya. USD bisa digelar di tempat apapun di Jakarta dan sekitarnya.
“Mulai dari kompleks kumuh, lantai basement apartemen, galeri seni, rumah penduduk, taman umum, dek apung untuk melihat matahari terbenam di dekat pantai, hingga kuburan. Kita pilih tempat yang unik dan mendukung tema keseluruhan. Kita tidak akan membawa peserta ke restoran atau kedai jajanan biasa,” kata Kepala Koordinator Azanaya Lisa Virgiano.
Uniknya lagi, para peserta tidak tahu lokasi dan menu Underground Secret Dining hingga satu hari sebelum acara. Azanaya sengaja membuat pesertanya berimajinasi dan menebak-nebak dari petunjuk yang sudah diberikan. Misalnya, berapa jarak lokasi acara dari monumen terkenal di Jakarta, fasilitas transportasi umum, jumlah parkir, bahan-bahan makanan atau minuman, apakah boleh membawa anak kecil, serta jam dan tanggal pasti.
Pernah suatu ketika, USD mengajak peserta minum teh di musoleum (bangunan makam mewah) OG Khouw di Tempat Pemakaman Umum Petamburan. Atau pergi ke perkampungan Betawi di Situ Babakan untuk makan makanan Padang di rumah penduduk. Lisa bercerita, Azanaya yang diambil dari bahasa Sansekerta berarti hasrat terhadap makanan. Kata ini juga yang menginspirasinya. Dia mengaku bosan dengan hiburan yang ada di Jakarta.
“Hanya ada mal-mal raksasa dengan restoran waralaba. Saya ingin menikmati makanan tradisional Indonesia dan berbagi eksotisme serta cara memasaknya,” ujar Lisa.
Sao Paolo, Rio De Janeiro, San Francisco, Chicago, Florence, London, Hong Kong, dan Sydney juga sudah “terinfeksi” konsep underground secret dining.
Sekitar 36 orang hadir dalam USD perdana Azanaya pada 2009. Kemudian, informasi menyebar ke mana-mana dan sampai saat ini Azanaya sudah melayani 1.700 peserta. Peserta terdiri atas para pencinta kuliner berjiwa petualang dari usia 25 tahun hingga 60 tahun. Acara digelar rutin sekali setiap bulan, dengan tema diambil dari salah satu provinsi di Indonesia.
Tak cuma menyantap makanan tradisional, peserta USD juga dikenalkan dengan bahan makanan khas sebuah daerah dan cara memasaknya. USD terakhir diadakan pada Minggu (12/2) dan mengangkat tema "Tale of a Lost Mother, Where is She Now?". Hidangan yang disajikan, antara lain reuncah (daun singkong masak jantung pisang muda dengan kunyit, serai, santan), anyang pakis (daun pakis masak oseng kelapa, udang kering, serai, cabai), sate godok (daging sapi masak saus kacang santan, jinten, rempah-rempah, dimakan dengan lontong), dan es tebak (es sirup isi kacang merah, nangka, cincau, tapai).
Selain USD, Azanaya juga punya Gastronomic Tour, JEMA Tour, dan Indonesian Heritage Cooking Series. Tur gastronomi itu menerapkan syarat minimum 10 peserta. Setiap tur berdurasi 3-5 jam dengan kunjungan ke 2-4 lokasi didampingi pemandu wisata kuliner profesional. Mereka akan berburu kedai makanan, warung, sampai restoran fine dining. (ftr)