Getting Time...
OKEFOOD | MakanYuk

Bernostalgia di Kampoeng Tempo Doeloe

SINDO
Sabtu, 19 Mei 2012 13:56 wib
detail berita
Suasana JFFF (Foto:Okezone)
KANGEN dengan jajanan zaman baheula yang unik dan jarang ditemui? Coba datangi Kampoeng Tempo Doeloe (KTD), bagian dari Jakarta Fashion and Food Festival (JFFF) 2012 di area La Piazza, Kelapa Gading, yang akan berlangsung hingga 3 Juni mendatang.

Acara yang digelar untuk yang ke-9 kalinya ini mengangkat tema budaya kolonial Belanda. Tidak hanya perjalanan sejarah bangsa, makanan khas dari Negeri Kincir Angin ini memang masih terus hidup dan menjadi bagian dari selera masyarakat Indonesia. Misalnya kue bitterballen, risoles, poffertjes, kroket, klappertaart, dan kue soes.

Terlihat juga stan makanan - makanan tradisional seperti nasi goreng kebon sirih, nasi kucing sambel gledek, nasi rames sajian nusantara, tongseng, sate padang, gadogado, empal gentong, soto babe, soto bangkong, tahu campur, bebek kaleyo, nasi gudeg, soto mie, bakso, cwie mie, dan kupat tahu magelang. Tak ketinggalan empek empek, tekwan, rujak juhi, nasi rendang, ketupat, otak otak, tahu gejrot, kue putu, martabak, buah lontar, tahu sumedang, kue jajan medan, aneka gorengan, pisang goreng, onde-onde, kerak telor, taoge goreng, dan masih banyak lagi.

Adapun yang spesial,dua pakar kuliner, yaitu Siska Soewitomo dan William Wongso, turut pula memeriahkan acara dengan menyajikan racikan masakan mereka. KTD juga menyempurnakan pengalaman pengunjung kembali ke suasana kota tua Batavia. Mengambil inspirasi dari pemandangan Oude Batavia, KTD semarak diwarnai ornamen - ornamen kota Batavia zaman dulu, lengkap dengan bangunan ala Stasiun Beos di Kota, Museum Fatahillah, dan pernak-pernik lain.

Selain itu, ada penampilan istimewa dari para musisi, yaitu pergelaran musik keroncong tugu, layar tancap,dan topeng monyet. Untuk menambah kesan oldies, transaksi pembelian makanan dilakukan dengan kupon unik berbentuk uang kertas kuno yang bisa ditukar di kasir-kasir yang tersedia di tiap sudut La Piazza. “Ini merupakan sebuah perayaan mode dan kuliner tahunan dengan misi mengangkat reputasi Jakarta sebagai pusat mode dan wisata belanja Asia,sekaligus memajukan industri boga dan kuliner Tanah Air,” tutur Cut Meutia, GM of Corporate Communications PT Summarecon Agung Tbk, penyelenggara JFFF.

KTD, dia menyebutkan, melibatkan lebih dari 44 pedagang kuliner dari berbagai daerah. Menurut Meutia, kemeriahan acara ini setiap tahun ternyata berdampak cukup signifikan terhadap keberadaan para penjual makanan tersebut. “Banyak yang sebelumnya tidak dikenal, tapi ketika tampil di JFFF makin banyak yang cari. Omzet penjualan mereka pun meningkat,” imbuhnya. Meutia mengatakan, pihaknya tidak menargetkan berapa pengunjung yang akan datang ke KTD. Namun, yang pasti, acara ini mampu menambah 20% pengunjung La Piazza setiap hari.

“Tapi, bisa lebih dari itu,karena kita tidak punya target persis. Yang penting, ranah kuliner kita bisa dikenal di mancanegara karena banyak turis asing yang mengunjungi Indonesia hanya karena acara ini,begitu juga di daerah-daerah,” ujar Meutia. Salah seorang pengisi stan KTD, Uni, penjual mendoan asli Banyumas, mengaku baru pertama kali mengikuti acara ini. Sehari-hari Uni membuka warung makan di Jalan Sumagung, Kelapa Gading Permai. Dia tidak hanya menjual tempe mendoan, juga soto ayam kampung, sega bandeng presto, sega kluban, dan kupat tahu.

Suatu saat, pihak penyelenggara JFFF mendatangi tempatnya dan menawarinya jualan di KTD. “Mereka nyicipin dulu masakan saya. Ternyata cocok, ya sudah akhirnya jualan di sini,” ceritanya. Setiap hari Uni membawa 600-800 lembar tempe mendoan dan selalu habis. “Bahkan, kemarin saya cuma bawa 400 lembar, baru sore hari saja sudah habis,” ujarnya. Uni mengaku menjual tempe mendoan karena sesuai dengan tanah kelahiran dan asal keluarganya.

Sementara itu, Yuniar, penjaga stan Putu Bambu Medan, mengaku telah berkali-kali mengikuti JFFF.Penghasilan yang dia dapat ternyata berlipat - lipat setelah mengikuti acara ini. Selain putu bambu, dia juga menyediakan panganan lain, seperti putu mayang, klepon, cenil, lopis, talam srikaya, putri ayu, ongol ongol, lepet bugis, dan dadar gulung. “Saya sudah lama ikut acara ini, dan membantu sekali promosi tempat saya. Biasanya saya ada di Rumah Makan Bale Sunda di Jalan Alternatif Cibubur,” tuturnya.

Tidak hanya bersantap, pengunjung JFFF juga berkesempatan memenangi hadiah makan gratis. Caranya mudah, struk makan dan minum di tenant yang berpartisipasi dengan nilai minimal Rp50.000 dapat ditukarkan dengan satu kupon berhadiah voucher makan gratis. (tty)

Berita Terkait : JFFF

Beri komentar

 
 

Celebrity

Didatangi FPI, Eyang Subur Ceraikan Empat Istrinya Hari Ini
Front Pembela Islam (FPI) berencana mendatangi kediaman Eyang Subur hari ini. Kedatangan mereka terkait pelepasan empat orang istri Eyang Subur sesuai fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Travel

Ketularan Demam K-Pop, Indra "ST12" Mimpi ke Pulau Jeju
Demam K-Pop juga menulari beberapa artis Ibu Kota. Tanpa malu-malu, Indra “ST12” mengakui jika K-Pop membuatnya ingin mengunjungi Korea Selatan.