Getting Time...
OKEFOOD | MakanYuk

Bertahan dengan Gandos Sejak Era Bung Karno (II-Habis)

Solichan Arif - Koran SI
Senin, 11 Juni 2012 20:30 wib
detail berita
Slamet dengan gandos dagangannya (Foto: Solichan/Koran SI)
BANYAK nama diberikan untuk camilan satu ini. Apapun ceritanya, Slamet juga menyimpan kisah sendiri sebagai seorang penjual gandos sejak era Bung Karno.

Hampir semua keramaian di sudut-sudut jalan perkotaan Kota Blitar telah dikuasai varian makanan modern, mulai roti bakar, sandwich, pizza, hot dog, sosis, hingga fried chicken. Selera populer tersebut dibangun serta ditawarkan melalui counter waralaba dengan segala promosi yang menggugah selera. Mulai anak-anak, remaja, dan semua yang disebut kaum muda menjadi pasar utamanya. Perlahan dan pasti keberadaan segala jenis kuliner modern ini akan menyingkirkan semua yang berbau tradisional.

Namun tidak bagi Slamet. Sebab pekerjaan lain yang pernah ditekuninya, yakni sebagai penarik becak atau pekerja kasar serabutan, tidak memberikan keuntungan seperti halnya saat berjualan gandos. Mulai pukul 06.00 WIB, lelaki tua itu sudah stand by di Kota Blitar dan siap menjajakan “hasta karyanya”.

Dari wilayah Kecamatan Kanigoro yang berjarak lebih dari tujuh kilometer, dia datang dengan mengayuh becak miliknya. Di atas becak termuat sebuah pikulan tua dari kayu, dua kotak jualan, yakni satu sebagai tempat gandos yang sudah matang dan satunya berisi kompor minyak tanah dengan cetakan loyang di atasnya.

“Saya juga selalu membawa bekal makanan dan baju sebagai ganti ketika pulang,“ imbuhnya.

Dengan pikulan yang berkeriut setiap kaki melangkah dan sebuah topi butut untuk menghindari sengatan sang surya, Slamet menyusuri jalan Kota Blitar. Rutenya tidak pernah berubah. Kurang lebih selama 20 tahun berjualan gandos, dia selalu mencoba peruntungan di kantor Departemen Agama Kabupaten Blitar. Selain para pegawai yang beristirahat, biasanya para  pembeli jajajan gandosnya adalah anak-anak TK dan SD yang pulang sekolah. Dari sana, Slamet melanjutkan perjalanan ke Pasar Legi Kota Blitar dan terakhir bersandar di komplek Istana Gebang.

“Sebelum pulang, saya biasanya menghabiskan waktu di Istana Gebang hingga pukul 4 sore. Selama menunggu pembeli, biasanya saya sambil tidur-tiduran. Istana Gebang itu banyak pohon rindang, enak buat istirahat,“ terangnya.

Dari harga Rp50 per gandos hingga Rp 500, masih ada saja orang yang menyukai jajanan gandos. Terbukti, sebanyak 2,5 kilogram tepung adonan yang disediakan Slamet selalu habis setiap harinya. Tepung adonan tersebut jika dirupakan gandos menjadi 200 buah. Artinya, penjualan jajanan tradisional ini dapat dikatakan cukup laris.

Walau demikian, Slamet mengaku tidak berani mengambil risiko menambah jumlah tepung adonanya mengingat semakin banyaknya makanan modern yang bertebaran di jalanan. “Kendati laris, saya juga tidak berharap anak-anak saya mengikuti jejak bapaknya berjualan gandos. Biarlah mereka mencari rezeki dengan jalan yang lebih mudah, “ tutupnya. (ftr)

Berita Terkait : Makan Yuk

Beri komentar

 
 
BACA JUGA »

Celebrity

Arya Wiguna Siap Saingi Eyang Subur
Arya Wiguna tampaknya siap menyaingi Eyang Subur. Jika bekas guru spiritualnya ingin berkiprah di dunia politik menjadi presiden pada 2014, Arya Wiguna akan maju sebagai Wakil Bupati Kolaka, Sulawesi Tenggara.

Travel

Kota Mati Chernobyl Masih Bikin Penasaran
Pernah dengan Kota Chernobyl di Ukraina? Ini adalah sebuah kota tak berpenghuni. Letaknya berada di Oblast Kiev dekat dengan perbatasan Belarusia.