Getting Time...
OKEFOOD | Warung Tenda

Menyeruput Racikan Daun Kopi Batusangkar

Rus Akbar - Okezone
Selasa, 26 Juni 2012 11:59 wib
detail berita
Racikan daun kopi khas Batusangkar, Sumbar (Foto: Rus/Okezone)
KALAU hanya berjalan melihat pemandangan alam serta kekayaan budaya ke Batusangkar rasa belum lengkap bila tak menyeduh Kawa Daun di Tabek Patah, Kecamatan Salimpaung, Tanah Datar, Sumatera Barat. Daerah ini terkenal dengan minuman daun kopi.

Rasanya mirip teh, tapi rasa kopi juga tidak ketinggalan, ini membuat lidah kita dimainkan seduhan daun kopi tersebut. Usaha Syafrizal Mangkuto (60) ini telah dirintis 12 tahun. Awalnya, dia tidak menduga akan mendapat sambutan dari penggemar daun kopi yang tenar, kawa daun. Dalam penyajiannya, daun kopi ini tidak memakai gelas, tapi memakai setengah batok kelapa yang sudah dibersihkan alasanya dari bambu agar tidak tumpah.

Mangkuto mengatakan, bahan daun kopi diolah dari daun kopi masih muda bersama ranting kemudian diselai dengan bara api hingga kering. ”Kalau kita remas daun kopi ini seperti meremas kerupuk,” tuturnya kepada Okezone di Batusangkar, Sumatera Barat, baru-baru ini.

Kemudian, daun kopi yang sudah kering ini direbus dalam periuk besar, tapi harus disesuaikan airnya dengan daun kopi yang direbus. Kalau sudah mendidih, maka airnya akan berubah kemerahan seperti teh, kemudian tinggal menuangkan ke dalam ’gelas’ alami, tentu jangan lupa lupa menyaringnya. Sesendok gula atau lebih, air daun kopi siap disajikan kepada penggemar kopi kawa, akan lebih nikmat jika disandingkan dengan goreng pisang, seperti yang dilakukan Mangkuto.

”Biasanya, pengunjung warung ini akan ramai pada sore hari, mulai dari jam tiga hingga malam,” katanya.

Pondok goreng Mangkuto ini bernama Kawa Daun, terletak di Bukit Sangin, 17 kilometer di Batusangkar atau di lintas Jalan Batusangkar-Bukittinggi. Harga satu kali saji kopi daun lumayan bersahabat dengan kantong, yakni Rp3.000 sementara pisang goreng hanya Rp1.000.

Batusangkar terkenal dengan kawa kopi ini, sebab daerah tersebut penghasil kopi di Sumatera Barat. Menurut Mangkuto, warga minum daun kopi sejak zaman penjajahan Belanda, saat warga tidak bisa mendapatkan bubuk kopi.

”Biji kopi semuanya diambil Belanda, petani penghasil kopi tidak bisa berbuat apa-apa kemudian muncullah ide untuk membuat minuman mereka dari daun kopi yang dikeringkan. Ternyata, hasilnya tidak kalah dengan kopi, sampai saat ini daun kopi sudah menjadi tren masyarakat setempat,” jelasnya.

Nama "kawa" berarti "daun kopi yang sudah dikeringkan". Dalam sehari, dia menghabiskan tiga kilogram atau satu karung daun kopi kering. Mangkuto mengaku omsetnya mencapai sekira Rp1,5 juta sehari, dengan enam orang pekerja. Padahal, warungnya cukup sederhana, terbuat dari kayu, yang menambah suasana lebih nyaman melepas dahaga dengan daun kopi.
(ftr)

Berita Terkait : Kuliner Nusantara

Beri komentar

 
 

Lifestyle

Ini Dia 51 Finalis Cantik Miss World 2013
Sekira 120 finalis akan berkompetisi memperebutkan mahkota Miss World 2013. Hingga kini, sebanyak 51 kontestan sudah diketahui sosoknya.

Celebrity

Hamil Anak Kedua, Shanty Ngebet Berjingkrak
Kabar bahagia datang dari penyanyi Shanty. Wanita asal Sukabumi itu tengah mengandung anak kedua pernikahannya dengan Sebastian Paredes.

Travel

Lagi, Turis Tewas Setelah Tenggak Arak Bali Oplosan
Arak Bali oplosan kembali memakan korban. Kali ini menewaskan seorang turis asal Inggris, yang merenggang nyawa setelah minum campuran arak Bali dan methanol.