SEBELUM menjejakkan kaki di Kepulauan Raja Ampat, singgahlah dahulu menyantap coto makassar. Kehangatannya siap menjalar ke seluruh tubuh.
Waktu menunjukkan pukul 07.00 WIT di Sorong, Papua Barat. Geliat aktivitas mulai terlihat, pun di Bandara Domine Eduart Osok dengan kedatangan pesawat dari Jakarta. Saat yang pas untuk mencari makanan penghangat sekaligus pengisi energi tubuh.
Tak jauh dari Bandara Domine Eduard Osok, sekira 10 menit berkendara dengan mobil, ada sebuah warung makan Makassar yang telah ada sejak 1991. Warung ini berada persis di seberang tembok berlin yang mengelilingi dermaga Pelabuhan Usaha Mina, Sorong. Penduduk setempat menyebut demikian karena tembok ini dibangun bersamaan dengan runtuhnya Tembok Berlin di Jerman. Semangkok coto makassar tentu menjadi pilihan tepat. Terbayang kuah kental dengan rempah yang menggelitik hidung.
Tertulis "Warung Bhaita Coto Makassar" pada selembar kain di depan warung, yang terlihat sederhana saja. Di dalamnya hanya ada lima meja dan bangku kayu panjang, tapi pengunjungnya sepagi ini saja sudah penuh. Semakin penasaran ingin segera mencicipi coto makassar ini.
"Coto makassar asli racikan sana karena saya berasal dari Makassar," kata Amin, pemilik Warung Bhaita Coto Makassar, saat
Okezone dan tim Adira Beauty X-Pedition Jelajah Nusantara menemuinya di Sorong, Papua Barat, baru-baru ini.
Amin tampak asyik bergelut membuat pesanan bersama beberapa pekerjanya. Sesekali, dia juga meladeni pembeli yang hendak membayar. Tak perlu etalase kaca, cukup meja kayu tinggi di mana di bawahnya digunakan untuk memotong-motong daging dan jeroan. Sementara, di samping meja ada panci besar berisi kuah yang selalu mengepulkan asap. Aromanya menyeruak ke seisi ruangan.
Tak lama, seporsi coto makassar dan segelas teh hangat pun datang ke hadapan. Kuah daging yang kental siap disantap bersama pendamping yang telah disediakan di meja, ada ketupat, buras, telur rebus, kacang, dan peyek, tinggal pilih sesuai selera. Ada pula kecap, sambal, jeruk nipis, dan garam untuk Anda yang ingin rasa lebih dominan.
Seporsi coto makassar dan satu buah ketupat pun meluncur ke perut dengan mulusnya. Minuman berupa segelas teh hangat pun semakin memberikan kehangatan tubuh saat pagi di Sorong.
Amin mengatakan, tidak ada bumbu khusus sebagai rahasia kelezatan kuah coto makassar racikannya. Bumbu-bumbunya hanya bawang putih, bawang merah, sereh, lengkuas, daun salam, dan kacang goreng yang lalu telah dihaluskan.
"Bumbunya biasa, tapi rahasianya, daging yang dipakai harus segar. Dagingnya dimasak jadi satu dengan kuah dan bumbu," imbuh pria yang meneruskan usaha orangtuanya sejak 1974 ini.
Amin sengaja tidak memberikan garam pada kuah coto makassar buatannya karena bila terus-menerus direbus, maka daging dan kuahnya menjadi semakin asin. Karena itu, dia menyiapkan garam di meja untuk pembeli memberikannya sendiri. Untuk pilihan isinya, ada daging dan jeron.
Awalnya, tidak mudah bagi Amin untuk menjual kuliner khas daerahnya ini di Sorong. Tak ayal, pembeli yang datang kebanyakan justru penduduk pendatang, pejabat, dan turis, seperti dari Jepang, Taiwan, China, dan lainnya. Amin sendiri tidak serta merta mengubah citarasa asli coto makassar dengan maksud membiasakan lidah pembeli. Namun, ceritanya kini berbeda.
"Sekarang sudah ramai, orang sini lebih mendominasi," tukasnya.
Untuk bisa menikmati lezatnya coto makassar Warung Bhaita, harga yang ditawarkan Rp16 ribu per porsi sedangkan Rp2.000 untuk teh manis hangat.
Berikut foto-foto warung coto makassar di Sorong, Papua Barat. (ftr)