Matcha & Sencha, Dua Varian Ocha Terpopuler
SINDO
Kamis, 9 Agustus 2012
14:33 wib
Matcha green tea (Foto: sleepwarrior)
DARI perlakuan penanaman yang berbeda itu menghasilkan pula jenis teh hijau alias ocha yang berbeda. Ada dua ocha yang kini disebut terpopuler.
Ocha Instructor (Pengajar Ocha) Yasuhiro “Hachi” Nasu mengatakan, untuk teh yang pembudidayaannya dengan cara ditutup terpal seluruhnya, akan menghasilkan tiga varian ocha, yakni tencha (matcha), gyokuro, dan kabusecha.
Sementara untuk metode kedua, varian tehnya lebih banyak, yaitu sencha, fukamushi-sencha, kamairi-sencha, dan bancha. “Matcha dan sencha merupakan dua varian ocha yang cukup populer di Jepang. Matcha merupakan daun ocha yang dibuat dengan teknik tertentu sehingga menghasilkan bubuk,” paparnya.
Dahulu, teknik menghaluskan daun ocha menjadi matcha ini dilakukan dengan cara tradisional, yakni menggunakan penggiling yang terbuat dari batu. Matcha dahulu kala dikonsumsi hanya ketika upacara minum teh. Namun, kini matcha sudah menjadi bagian hidup sehari-hari masyarakat Jepang.
Sementara, sencha merupakan jenis ocha yang paling banyak diproduksi di Jepang. Meski rasanya sepet karena banyak mengandung cathecin, namun justru menjadi kegemaran masyarakat Jepang.
Pembuatan sencha dipelopori oleh tokoh Jepang bernama Nagatani Soen (1681–1778). Nagatani berhasil mengembangkan teknik yang mampu meningkatkan volume produksi dan kualitas ocha. Selain sencha dan matcha, jenis ocha lainnya adalah houjicha dan genmaicha.
Kedua teh tersebut termasuk sencha karena pembudidayaannya dibiarkan terkena sinar matahari langsung sehingga banyak mengandung cathecin. Namun, houjicha dan genmaicha dihasilkan dari proses pengolahan yang berbeda.
Houji-cha merupakan ocha yang dihasilkan dengan cara dipanggang. Ocha ini memiliki warna berbeda dibandingkan ocha lainnya, yakni berwarna cokelat. Sementara genmaicha adalah jenis ocha yang dihasilkan dengan mencampur daun teh dengan sejenis beras dan kemudian disangrai. Ocha jenis ini juga memiliki warna cokelat.
Perpanjang Umur
Orang Jepang meyakini salah satu rahasia panjang umur mereka karena sering mengonsumsi ocha. Hal ini bukanlah mustahil atau isapan jempol belaka. Sebab, dari kandungannya, ocha memiliki kandungan kimiawi natural yang luar biasa hebat.
Ocha diketahui mengandung asam amino dan catechin. Berdasarkan penelitian Department of Food Science, The Pennsylvania State University, teh hijau atau dengan nama latin Camellia sinensis kaya akan zat catechin. Di mana zat ini memiliki kandungan epigallocatechin gallate (EGCG) yang sangat melimpah.
Dari studi terhadap hewan model karsinogenesis, telah menunjukkan bahwa teh hijau dan EGCG dapat menghambat perkembangan sel tumor. Bahkan, hasil studi juga menunjukkan adanya zat antioksidan dan pro-oksidan untuk pencegahan kanker dalam kandungan catechin teh hijau. Tidak heran jika kemudian masyarakat Jepang mengklaim bahwa ocha yang mereka minum mampu memperpanjang umur. (ftr)