Asam-Pedas Khas Melayu Bikin Lidah Goyang Terus
Randy Wirayudha -
Okezone
Rabu, 19 September 2012
18:33 wib
Makanan khas Melayu (Foto:Randy Wirayudha)
PEKANBARU – Melawat ke kota-kota manapun di Indonesia, termasuk Riau dalam rangka PON XVIII, tentunya rasa penasaran dengan kuliner utama khas lokal, bakal mengusik pikiran dan air liur anda.
Di sekitar Pekanbaru, restoran masakah khas melayu memang terkesan jarang ditemui. Di jalan-jalan protokol seperti Jl. Jenderal Sudirman, Jl, Tuanku Tambusai, Jl. Soekarno-Hatta dan Jl. Arifin Achmad, marak terdapat warung-warung atau restoran Sunda atau Jawa. Sementara yg khas melayu, akan sulit ditemui jika tak ditemani warga lokal Pekanbaru.
Setelah berkeliling, akhirnya Okezone menemukan tempat warung makan khas Melayu yakni di Pondok Yurika namanya dan bertempat di Jl. Sutomo, Pekanbaru. Warna muka dan ekspresi anda pasti akan memerah bak tomat matang jika keluar dari sana usai menyantap kuliner khas melayu dengan cita rasa asam-pedas yang dominan dan meledak di lidah.
Faktor yang membuat ledakan asam-pedas itu tersulut adalah empat macam sambal khas yang pastinya disajikan bersama lauk-pauk lainnya. Empat sambal ini terdiri dari sambal nanas, sambal mangga, sambal tomat dan sambal ijo (hijau).
“Ini yang khas dari masakan melayu, empat sambal ini yang menjadi ciri khas. Dicoba aja (saja), pasti rasanya ‘gimana gitu’,” ujar seorang kawan, Djaka Anugerah Soeherman, sembari berkelakar.
Benar saja, saat mencoba mencoleknya dengan salah satu lauk, rasa asam-pedas meletup di lidah dan seketika memancing keringat dan wajah memerah sebagai akibatnya. Untuk anda yang awam dengan masakan-masakan sumatera, mungkin takkan ‘doyan’ untuk terus menyantap hidangan yang tersisa. Tapi jika sudah terbiasa, lauk apapun pasti ingin dicoba dengan empat sambal tersebut.
Untuk lauk-pauknya sendiri, hasil-hasil sungai amat dominan seperti udang sungai, Ikan Baung, Patin, Ikan Selais yang dimasak dengan bermacam-macam bumbu dan olahan berbeda, baik di goreng, ‘disayur’ hingga diasap.
Nah, jika wajah sudah memerah dan keringat mengucur deras, penetralisir sensasi itu bisa diredam dengan es sarang burung nan dingin dan nikmat. Juga dengan kudapan penutup seperti bolu ‘mini’ kemojo atau puding jagung.
Untuk harganya sendiri relatif murah. Ikan baung sambal ijo hanya Rp20 ribu, asam-pedas patin Rp21 ribu, sayur daun katu (katuk) hanya Rp10 ribu dan es sarang burung tak lebih dari Rp13 ribu. (uky) (ftr)